Posts

Menjadi Musisi Jalanan Satu Malam

Pernahkah terpikir oleh kalian untuk menjadi pengamen  musisi jalanan? Jujur, saya tidak pernah. Tapi hari Sabtu, 18 Februari 2017 lalu, saya dan teman-teman saya malah menjadi musisi jalanan satu malam. Kegiatan menjadi musisi jalanan satu malam ini bertujuan untuk menggalang dana demi kelancaran acara tahunan yang akan kami selenggarakan lebih kurang satu bulan mendatang. Kami yang dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari sepuluh orang, harus mengelilingi sebuah komplek yang terdiri dari beraneka rumah makan untuk menyanyikan lagu dan meminta kedermawanan pengunjung. "Siapa yang mau ngambilin uang yang mereka (pengunjung rumah makan) kasih?" ujar salah seorang senior. Karena tidak ada yang bersuara, saya akhirnya berinisiatif mengacungkan jari. Dan ketika wadah itu diberikan kepada saya, saya langsung berpikir ulang. Artinya, saya harus mendatangi satu meja ke meja lainnya untuk meminta kedermawanan pengunjung. Saya pun menelan ludah. Apakah saya siap? I...

Susahkah Mewujudkan Toleransi?

Saya ingat jelas Lebaran dua tahun lalu. Saya dan dua orang teman saya mengunjungi rumah guru kami, Ibu Sri Raudah Bahsyar yang merayakan Lebaran. Kami lebih akrab menyapanya dengan Bu Ade. Ketika tiba di rumahnya, kami langsung disambut dengan ramah olehnya. "Selamat Hari Lebaran, Bu!" ujar kami lantan berbarengan. Kemudian kami menyalaminya. "Iya, terima kasih, anak-anak Ibu. Yuk, masuk," ucapnya dengan senyum. Anggota keluarga Bu Ade yang lain sedang berkumpul dan bercengkrama ketika kami masuk ke dalam rumahnya. Melihat kedatangan kami bertiga, mereka semua sangat antusias. Kami menyalami keluarga Bu Ade satu per satu sambil mengucapkan selamat hari Lebaran. Walaupun saya dan kedua teman saya tidak merayakan Lebaran, tapi kami bertiga hanyut dalam sukacita hari Lebaran. Saya beragama Buddha. Teman saya yang satu beragama Katolik. Dan yang satu lagi beragama Kristen. Kurang indah apalagi wujud toleransi ini? Terkadang sebuah pertanyaan terlintas di ben...

Kelar Ujian saatnya ke Dufan

Image
Yeay ! Akhirnya usai juga ujian akhir semester. Enaknya ngapain, ya? Berhubung saya suka makan sate padang, akhirnya kami memutuskan untuk berlibur ke Dufan. ( lho , apa hubungannya?) Yap, pada hari Selasa, 17 Januari 2017, saya dan empat teman saya menghabiskan waktu liburan dengan bermain di Dufan. Kami sudah bersiap-siap dari Gading Serpong sekitar pukul delapan. Perjalanan ke Dufan cukup memakan waktu karena kami salah mengambil jalur. Seharusnya kami menggunakan jalur tol tetapi malah beralih ke jalan biasa. Lebih kurang dua jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Dufan. Lagu khas Dufan sontak beriring-iringan menggelitiki telinga kami, membuat kami semakin tidak sabar. Kami membeli tiket dan langsung cusss masuk. Dan tidak lupa, untuk mengabadikan keseruan kami di Dufan, salah satu teman saya, Vio mencoba untuk mendokumentasikannya dalam bentuk vlog (video blog). Nanti kalau vlog-nya sudah jadi akan saya unggah ya… Kiri ke kanan: Abel, Adel, Vio, Veren, dan saya. ...

Jadi Guru Satu Hari

Image
Anda boleh tidak percaya, cita-cita saya dulu adalah ingin menjadi guru. Hari ini, saya diberi kesempatan untuk merasakan bagaimana menjadi seorang guru. Saya dan dua rekan sekelompok saya, Neysa dan Tio,  hari ini mengunjungi SDN Cihuni 2 untuk melakukan penyuluhan mengenai menulis kreatif. Pagi-pagi pukul delapan, kami sudah berada di lokasi. Kami mendapat kelas yang berisi murid-murid kelas lima, dan ketika melihat kami masuk, mereka menyambut kami dengan sangat antusias. Saat kami menyampaikan materi pun, anak-anak di kelas ini sangat interaktif dan semangat menyimak. Namun saya tidak akan membahas mengenai materi yang kami berikan di kelas. Melainkan, ada  kejadian yang jauh lebih penting daripada uraian materi, yang menyentil hati kecil saya. Anak-anak di kelas ini sangat kompak dan saling peduli. Pada saat itu, saya sedang menghapus tulisan di papan tulis dengan penghapus papan tulis biasa, namun tulisan di papan tulis itu tidak bisa hilang sepenuhnya. "Har...

Selamat Jalan, Wali Kelas Terhebatku

Image
Pagi-pagi saya sudah dibangunkan oleh notifikasi ponsel saya yang terus berdenting. Setelah mengucek-ngucek mata, saya mengambil ponsel dan terperanjat membaca kabar duka di grup kelas sebelas saya. Ibu Bernadette, yang pernah menjadi wali kelas kami, telah berpulang ke rumah Tuhan. Saya kaget sekaligus tidak percaya membaca isi obrolan di grup kelas saya. Bahkan harus saya baca berkali-kali untuk meyakinkan diri bahwa saya tidak sedang bermimpi. Beberapa bulan belakangan ini kami sempat dibuat cemas karena mendengar beliau terkena penyakit leukimia. Padahal sepengetahuan kami, Ibu Bernadette kelihatan sehat dan baik-baik saja. Kondisi ini membuat beliau harus dirawat di rumah sakit khusus di Jakarta. Ibu Bernadette adalah guru agama di SMA Santa Maria Pekanbaru, dan ketika kami naik kelas dua belas, tepatnya di semester genap, beliau diminta untuk mengajar di SMP. Ibu Bernadette adalah sosok yang menjadi teladan semua murid-murid yang pernah diajarnya. Ibu Bernadette tidak pernah...

Konversi Puisi "Gerilya" Menjadi Cerpen: Bebas yang Benar-Benar Bebas

Cerpen ini adalah salah satu tugas mata kuliah Creative Writing, mengonversi puisi menjadi cerpen. Cerpen ini dikonversi dari puisi W. S. Rendra yang berjudul "Gerilya", dengan interpretasi penulis.  Selamat membaca. *** Rerintik hujan yang berpadu dengan aroma rerumputan menyambut pagi di sebuah desa di tepi kota Bandung.  Cericit burung terdengar saling bersahut-sahutan, sinkron dengan sinar matahari yang perlahan mulai mencuat. Dimas, yang hanya tinggal berdua dengan ibunya, baru saja bangun dari tidurnya. Ia berjalan ke arah dapur, menghampiri ibunya. Perempuan paruh baya yang sudah bangun lebih pagi itu sedang berjibaku dengan adonan kuenya.  “Eh, sudah bangun kamu, Nak. Boleh tolong kamu hidupkan dulu tungku itu?” ujar ibunya pelan. Tanpa banyak bicara, Dimas segera menyalakan tungku di dapurnya, sebagaimana rutinitasnya setiap pagi. Sejak kekacauan yang diakibatkan oleh kedatangan Belanda di pusat kota Bandung, Dimas dan anak-anak di desanya terpak...

Kathina Bersama 2016: Hari Kathina Tiba, Hatiku Gembira.

Image
Hari Kathina tiba! Hari Kathina tiba! Yeay ! Mungkin ada yang masih bertanya-tanya, apa itu "Kathina"? Apakah itu pedang khas Jepang? Bukan, itu katana. Hari Kathina adalah salah satu hari suci agama Buddha, selain Waisak, Maghapuja, dan Asadha. Hari Kathina memperingati selesainya para bhikkhu menjalankan masa vassa . Di masa vassa selama tiga bulan, para bhikkhu menetap di vihara dan mendalami kembali ajaran Sang Buddha. Tradisi ini dimulai di India, ketika musim hujan tiba, para bhikkhu menetap dan berdiam diri di vihara. Mereka kembali mempelajari ajaran Sang Guru Junjungan. Ini dilakukan agar tumbuhan-tumbuhan yang baru tumbuh di musim hujan dan hewan-hewan kecil yang keluar ketika musim hujan tidak terinjak. Di Hari Kathina, umat bersukacita mempersembahkan keperluan pokok para bhikkhu, seperti jubah, mangkuk patta , obat-obatan, dan alat cukur. Kebetulan, saya dan teman-teman saya menjadi panitia acara Kathina Bersama 2016 di JI-Expo Jakarta yang diselenggarakan...